PHAM • Kekayaan dan Warisan Leluhur Budaya Suku Meck

Babi dalam bahasa latin memiliki sebutan "Sus" atau "Sus Domesticus" adalah sejenis hewan ungulata yang bermoncong panjang dan berhidung lemper. Umumnya di wilayah daratan Pulau Papua, Babi Kebanyakan terdapat di daerah dataran tinggi Pegunungan tengah hingga ke pegunungan Timur.

Penulisan mengenai Babi pada bahagian ini, secara distingtif akan dikemas menyangkut kekayaan yang hanya ada dan dimiliki dalam kehidupan kebudayaan suku yang mendiami dataran tinggi Pegunungan Timur Provinsi Papua. Disinilah tempat yang menjadi rumah bagi seluruh masyarakat suku Meck. Orang Meck disini menyebut Babi dalam bahasanya= "Pham".

Pham, itulah satu dari sekian kekayaan dan harta yang masih hidup dan menjadi warisan budaya leluhur orang Meck yang ada sampai detik ini. Bukan suatu kekayaan yang baru lahir pada rentang waktu dalam kebudayaan ini, akan tetapi Pham diakui sebagai simbol kebesaran dan perbendaharaan yang khas dan unik. Secuil fakta pun tidak pernah lekang, karena ada sejak nenek moyang orang Meck hingga dewasa ini. Sebab Pham telah menjadi harta kekayaan yang luhur dan mulia.

Dalam kebudayaan masyarakat suku Meck Pham memiliki nilai Religious-Culture yang ada dalam suku ini turun-temurun. Karena diyakini Pham memiliki daya yang mampu menyatukan dan menghidupkan (Power Unites and Animates). Karena ada mitos yang dipercaya bahwa makhluk hidup seperti manusia merupakan hasil kreasi dari Babi Purba yang telah membentuknya menjadi rupa manusia yang hidup, sejak semula. Oleh sebab itu, Pham dalam kebudayaan ini diberi ruang tersendiri yang memiliki nilai kesakralan yang dijunjung tinggi. 

By the way, dalam kebudayaan masyarakat Meck di dataran tinggi Pengunungan Papua terdapat empat jenis Pham yang telah menjadi ciri khas di suku ini, antara lain : 
  1. Yalle Pham : Babi ini memiliki postur tubuh yang mungil, serta memiliki kandungan daging yang sangat banyaķ, telinganya tidak terpotong, dan berumur panjang.
  2. Tabo Pham : Postur tubuhnya agak memanjang, kandungan dagingnya lebih dominan daripada gemuk. Usianya bertahan hingga 15 tahun kebawa, sebab pengaruh iklim bagian dataran terendah bahkan karena makanan yang dikonsumsi, tetapi juga berda pada daerah tertentu dan hanya terdapat di wilayah dataran rendah.
  3. Wilik Pham : Jenis Babi ini memiliki telinga yang terpotong. Babi ini memiliki keunikan, karena bisa meniru gerak-gerik manusia mulai dari cara jalan, cara salam, cara bicara, bahkan dari banyak hal yang dilakukan majikannya. Ekornya pun bisa di potong, jika Babi ini kedapatan membuat kesalahan atau Nakal. Sebab itu, Babi ini lebih dekat dengan manusia karena suka dengar-dengaran dan dijadkan teman hidup oleh majikan.
  4. Kur Pham : Babi ini merupakan sejenis Babi putih. Babi yang mencintai lingkungan hidup karena Babi ini memiliki kemampuan berinteraksi dengan manusia dan alam dari kebudayaan setempat. Jika satu keluarga mempunyai sejenis babi ini, semua orang akan merasa memiliki Babi ini. Karena orang Meck meyakini bahwa beranaknya seekor Babi betina dan terdapat Babi putih diantara yang hitam, diyakini sebagai reinkarnasi dari roh para leluhur. Sebab itu, hadirnya jenis Babi ini merupakan simbol persatuan dan sumber kehidupan bagi semua orang.

Pham juga sering digunakan sebagai alat pembayaran maskawin, bahkan dalam perhelatan pesta adat atau perdamaian, penebusan,upacara syukuran, dan berbagai macam hal yang dibuat dengan Pham, baik itu yang dilakukan oleh individu maupun kelompok.

Oleh karena itu, tidak salah lagi kalau orang-orang yang memiliki ternak Pham dengan jumlah yang sangat banyak akan disebut sebagai orang kaya dalam suatu kampung. Selain sejumlah lahan, tanah, air, bahkan hutan dan sebagaianya yang dimiliki melebihi orang lain atau suku lain, mereka menyebutnya orang kaya (Nimi Nubunge). Boleh dikata semacam top-model sebagai Kepala Suku. Namun, tidak hanya Kepala Suku saja, tetapi bagi barangsiapa yang memiliki harta benda yang lebih banyak, termasuk dalam kategori orang kaya.

Inilah ciri khas kekayaan terluhur dan sakral dari kebudayaan suku Meck. Karena setiap perbedaan dan keunikan dari berbagai suku, menampilkan kesejatiannya masing-masing. Untuk itu, Pham telah menjadi kekayaan terluhur dan warisan budaya suku Meck di serangkaian Pegunungan Timur Papua. 

"Jauh dari kesempurnaan, perbaikan, kritikkan dan saran  sangat dibutuhkan demi perbaikan lebih lanjut menuju jalan yang ideal"

Penulis : Seno R. Pusop Jr.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

"Kapsul Ajaib" dari Pegunungan Timur Papua

Kom: Legenda Cerita Rakyat Suku Yale

Perabuan: Budaya Pemakaman Tradisional di Papua Pegunungan