Kom: Legenda Cerita Rakyat Suku Yale
Kom adalah sebuah dongeng atau cerita rakyat yang paling fenomenal sepanjang masa dan sebagai pewarisan nilai dan konsep hidup dalam kehidupan orang Yale turun temurun dari nenek moyang hingga kini.
Kom sebagai bentuk Karya Sastra yang mengandung pesan moral bahkan terkesan sebagai kejadian sungguhan. Walau Kom diceritakan secara fiktif dan imajinatif, namun asyik dan menarik hingga para pendengarnya merasa terhibur dalam Yuwi (rumah adat pria).
Karya sastra ini, yang kerap orang Yale menyebutnya "Kom". Kisah dalam Kom memiliki karakteristik tersendiri yang unik dan khas. Anekdot Kom juga mengandung unsur hiburan bersifat jenaka, terenyuh tetapi juga pendidikan akan nilai luhur, pengalaman spiritual, petualangan intelektual, serta peristiwa sosial di Masyarakat. Umumnya diceritakan hanya pada malam hari sebelum tidur.
Usai seluruh aktivitas keseharian berkebun, berburu dan lainnya. Bunyi jangkrik adalah suatu tanda malam yang sangat baik untuk pulang ke "Kelabo Ae" (rumah wanita atau rumah keluarga) rehat sejenak dan dijamu oleh seorang istri dengan ketersediaan hidangan.
Saat datangnya khidmat, semburan asap putih mulai tertentang diatas atap kerucut, yang ditutupi daun pandanus. Hentakan antara kaki dan tanah membuat seorang pria akan bergegas menuju Yuwi. Arsitektur Yuwi yang unik dan memiliki kekhasan, terdapat dua lantai, pada lantai pertama (Ampulungakh) tempat bersantai, senda-gurau dan aktivitas lainnya. Sedangkan lantai kedua (Henawe) adalah tempat untuk tidur, yang dibuat seapik mungkin.
Sekarang waktunya tidur, api dibawa naik ke Henawe, agar tidak tersesak karena kumparan asap dari bawah. Henawe dilengkapi dengan sebuah tungku yang mendominasi bagian tengahnya, diantara empat tiang penjuru mata angin, letaknya seukuran dengan Ampulungakh jaraknya berkisar satu meter.
Pintu akan ditutup oleh pria yang terakhir menaiki Henawe. Api akan dinyalakan, terlihat lidah-lidah api yang berwarna-warni dari kayu bakar pilihan terbaik daerah tropis. Para pria duduk mengelilingi perapian. Berada pada ketinggian 3.500 meter diatas permukaan laut, hawa terasa lebih dingin di malam hari. Pasalnya api telah menjadi yang terkemuka dalam memberikan kenyamanan tidur.
Seorang pria yang tergerak hatinya akan memprakarsai dengan Opening Ceremony, untuk pesta dengar-dengaran. Pria lain lagi akan mengatakan : "Saya mempunyai sebuah Kom", seisi Henawe terhening dan membisu, seakan rumah adat tanpa penghuni di malam kelam.
Cerita Kom berlangsung, mulai kentara tulang betis tua-tua adat yang berkilau sering disebut Wikal, duduk dekat perapian. Pada pojok terlihat kepala bocah kecil-kecil yang terbaring asyik sembari dengan pendengaran tajam. Teruna-teruna yang gagah perkasa atau "Kawini" duduk dan melinting rokok, walau telinga tertuju pada bahana Kom.
Sehabis pria yang satunya bercerita, gilirannya pria lain untuk cerita Kom, terkadang Kom-nya pun saling bergantian. Bahkan biasanya, pria yang memiliki banyak Kom dan isi ceritanya yang berkepanjangan dijuluki sebagai Raja Kom.
Sesampainya pada pertengahan Kom lainnya terlelap dalam alam mimpi, suara dengkur menggema seluruh Henawe. Akhirnya hanya segelintir pria yang bertahan mendengarkan Kom sampai ceritanya tamat.
Inilah Hiburan dan Keseruan malamnya cerita rakyat suku Yale di Yuwi. Kom yang diceritakan terus-menerus telah menjadi tradisi dan warisan budaya leluhur. Sekaligus Kom telah menjadi pengantar tidur nenyak, sampai fajar menyingsing adalah hari terbaik sepanjang waktu. Itulah Legenda Cerita Rakyat suku Yale.

Komentar
Posting Komentar