Bapak Leluhur Pekabar Injil Suku Meck, GKI Paling Bungsu di Tanah Papua

Supiori dan Lahirnya Sang Leluhur

Biak merupakan negeri yang melahirkan banyak penyiar atau pekabar Injil, terutama negeri yang terletak di teluk Cendrawasih, yaitu Supiori yang kerap dijuluki sebagai pulau Injili. Julukan ini bukan sekedar pemberian label, tetapi lahir dari sejarah panjang perjuangan dan pekabaran Injil yang telah menorehkan nama-nama pelopor Injil yang memiliki peran penting, salah satunya adalah Pdt. Fincen Jacob Speniel Rumainum yang menempati tempat yang istimewa di sanubari masyarakat Meck. Beliau dikenang bukan hanya sebagai Ketua Sinode pertama GKI di Tanah Papua, melainkan juga sebagai figur leluhur yang meletakkan dasar iman, terutama di wilayah Meck, wilayah pelayanan yang disebut paling bungsu dalam lingkup pelayanan GKI di Tanah Papua.

Pdt. F.J.S. Rumainum lahir di Biak, (tempat dan tanggal kelahirannya belum dipastikan dan masih memerlukan rujukan sumber yang lebih akurat). Ia merupakan putra dari seorang guru bernama Willem Rumainum, salah satu lulusan terbaik dari Seminari Depok tahun 1908. Seminari tersebut merupakan yang menjadi salah satu pusat penting sekolah guru misionaris pertama di Jawa, sekaligus juga menjadi wadah pembentukan tenaga guru dan pekabar Injil bagi generasi awal Papua. Dari lingkungan keluarga guru yang terdidik inilah Rumainum kecil ditempa dalam suasana iman, pelayanan dan kasih. Kehidupan keluarganya membuat ia sejak kecil menyaksikan bagaimana Injil bukan hanya tentang ajaran, tetapi jalan hidup yang menuntut pengorbanan.

Sebagai anak seorang guru, Rumainum kecil tumbuh dengan kesadaran bahwa panggilan untuk melayani bukanlah sekedar warisan, melainkan sebuah penyerahan hidup sepenuhnya kepada Kristus. Berkat didikan dari Pdt. I.S.Kijne di sekolah Opleidingsschool voor Volksonderwijzers di Miei-Wondama, serta pendidikan teologi yang kemudian ia tempuh di STT SoE, Kupang, ia akhirnya menjadi pendeta Papua pertama yang dengan latar pendidikan teologi formal. Ini merupakan sebuah tonggak penting dalam sejarah gereja di Tanah Papua.

 

Ketua Sinode Pertama dan Warisan Pelayanan

Ketika GKI di Tanah Papua resmi berdiri pada tanggal 26 Oktober 1956, Pdt. F.J.S. Rumainum dipercayakan sebagai Ketua Sinode Pertama dalam Sidang Sinode Umum yang diselenggarakan di Harapan Abepura. Kepercayaan itu diberikan karena pada masa itu Rumainum merupakan satu-satunya tenaga pendeta yang telah menamatkan pendidikan teologi formal. Para pendeta Zending memang mempersiapkan kaum terpelajar dari dari anak pribumi untuk memimpin GKI pada masa depan.

Rumainum berperan penting dalam meletakkan dasar yang kuat bagi pertumbuhan gereja serta simbol perjuangan gereja menuju kemandirian dan semangat misioner. Tugas dan pelayanan utamanya adalah mengokohkan fondasi gereja yang baru lahir, sekaligus meneguhkan identitasnya sebagai gereja yang mandiri dan misioner. Pelayanannya dan kepemimpinannya kemudian menjadi inspirasi bagi gereja, termasuk masyarakat Meck, dalam menumbuhkan semangat kemandirian serta ketekunan dalam pelayanan hingga akhir hayat.

Memang tidak bisa dipungkiri bahwa Tuhan bekerja lewat hamba-hamba-Nya untuk terus mewartakan Injil di wilayah Pegunungan, mulai dari suku Hubula, Yali, hingga wilayah Meck. Pencapaian penginjilan tersebut merupakan wujud nyata dari implementasi misi Kerajaan Allah yang berhasil di bumi Papua. Pada tahun 1956, para petugas GKI asal Belanda sempat berencana untuk membiarkan Pekabaran Injil di Jayawijaya dilakukan oleh Badan Misi dan Zending lain. Namun, rencana dan cita-cita yang diinginkan Pdt. F. J. S. Rumainum jauh lebih berbeda. Sebab bagi Pdt. Rumainum dalam hati kecilnya merasa masih ada orang dataran tinggi yang belum dijamah dan harus disentuh melalui uluran tangan serta pelayanan kasih karena ia sangat mengasihi dan mencintai orang-orang pedalaman.

Keinginan dan usaha Pdt. Rumainum akhirnya bisa mencapai titik keberhasilan. Pada tanggal 09 November 1959, Pdt. Rumainum dan N. van der Stoep meninggalkan Bumi Papua menuju daratan Eropa dengan tujuan meminta tenaga pelayan (dua orang pendeta dan satu dokter), untuk melayani masyarakat di pedalaman dataran tinggi Papua yang belum terjangkau. Permohonan tersebut disambut baik oleh Badan Pekabaran Injil ZNHK (Oegsrgest, Belanda) dan RMG/VEM (Wuppertal-Barmen, Jerman Barat). Kedua lembaga ini kemudian menerima, menyetujui dan mempersiapkan tenaga pelayan yang akan diutus, yaitu Pdt. S. Zöllner, Pdt. P.C. Aring, dan Dr. W.H Vriend.

Berkat keinginan dan perjuangan Ketua Sinode Pertama GKI di Tanah Papua, ketiga tenaga pelayan yang dipersiapkan dan diutus itu akhirnya mendarat dengan selamat di bumi Cendrawasih, Jayapura, pada tanggal 08 September 1960. Kedatangan mereka menandai dimulainya sebuah misi dan ladang pelayanan baru untuk membuka karya pekabaran Injil di wilayah yang belum terjangkau. Kehadiran para pelayan dari Zending Belanda dan Jerman di Papua menjadi kebanggaan tersendiri sekaligus membawa sukacita yang mendalam bagi Pdt. F.J.S. Rumainum, karena hal tersebut dipandang sebagai bagian dari buah pekerjaan Injil yang luhur dan mulia di hadapan Tuhan yang empunya pekerjaan dan pelayanan.

Benang merahnya terletak pada bagaimana Roh Kudus bekerja di hati Pdt. Rumainum untuk membuat kesepakatan dengan Zending Belanda dan Zending Jerman untuk melakukan penginjilan di wilayah Pegunungan yang sebagian wilayahnya belum tersentuh. Memang patut kita akui Pdt. Zöllner kemudian dikenal sebagai bapak peradaban di wilayah Yalimo. Namun, satu hal penting yang tidak boleh kita lupakan adalah campur tangan Tuhan melalui hamba-Nya Pdt. Rumainum, yang berjuang dan bekerja keras selama kepemimpinannya sebagai Ketua Sinode untuk mewujudnyatakan “Syalom Allah” di tengah jemaat Pegunungan khususnya di wilayah Yali dan Meck.

Ketika kita menengok lebih jauh, terdapat sosok yang turut berperan dalam mewujud nyatakan penginjilan dan pelayanan di wilayah Meck yang bermula dari basis penginjilan yang terletak di Pos PI Anggruk. Dalam wawancara eksklusif yang dilakukan Majalah Kemitraan GKI dengan Pdt. Dr. Siegfried Zöllner, ia ditanya mengenai alasan pengutusannya ke Tanah Papua, khususnya di wilayah Yalimo yang meliputi suku Yali dan Meck. Ia menjelaskan bahwa pengutusannya terjadi karena adanya kesepakatan antara United Evangelical Mission (UEM) di Jerman dan GKI di Tanah Papua melakukan penginjilan di wilayah Yalimo.

Kesepakatan tersebut melibatkan tiga organisasi gereja, di antaranya Zending Belanda, Zending Jerman (UEM), dan GKI di Tanah Papua. Kesepakatan itu dilakukan pada masa Pdt. F.J.S. Rumainum menjabat sebagai Ketua Sinode Pertama GKI di Tanah Papua. Pdt. Zöllner mengatakan bahwa kesepakatan tersebut sesungguhnya merupakan bagian dari misi Ketua Sinode, Pdt. Rumainum untuk berencana membuka medan pekabaran Injil di daerah Pegunungan Papua. Namun, Pdt. Rumainum sendiri belum mengetahui secara pasti kondisi wilayah Pegunungan, karena Wamena baru saja dibuka oleh Pemerintah Belanda. Wamena pada waktu itu menjadi pusat aktivitas penginjilan dari berbagai Zending, meskipun telah terdapat jemaat kecil di sana. Setelah GKI melakukan perundingan dengan Zending yang lebih dahulu bekerja di wilayah Pegunungan, disepakati bahwa medan Pekabaran Injil untuk GKI ditetapkan di wilayah Yalimo, yang meliputi dua suku, yaitu Yali dan Meck.

Sampai pada akhirnya, melalui berbagai upaya penginjilan yang dilakukan dengan membuka Pos PI di Anggruk, Injil Kristus merembes hingga ke wilayah Meck. Wilayah ini kemudian menjadi salah satu basis GKI di Tanah Papua yang paling bungsu, sekaligus menjadi bukti konkret bagaimana keputusan-keputusan sinodal diterjemahkan dalam pelayanan yang nyata. Injil tidak hanya berkutat pada daerah-daerah lama yang telah mapan, melainkan juga menyebar ke tanah-tanah baru.

Injil yang secara resmi diwartakan di wilayah Meck pada tanggal 12 Mei 1970 merupakan realisasi dari visi tersebut sekaligus menjadi tonggak penting dalam sejarah GKI di Tanah Papua. Pada hari itu, Injil mendarat tepat di Perbukitan Pinia, sebuah wilayah pelayanan yang dalam struktur GKI di kenal sebagai wilayah “GKI paling bungsu”. Momen ini menandai bahwa kabar keselamatan Allah telah menjangkau seluruh pelosok bumi Cendrawasih, tidak hanya di kota-kota besar seperti Manokwari, Biak, Wamena atau Jayapura, tetapi juga daerah-daerah yang sebelumnya belum tersentuh secara formal oleh pekabaran Injil.

Penginjilan yang dilakukan di wilayah Meck tidak terlepas dari legasi abadi Pdt. F.J.S. Rumainum. Meski beliau telah berpulang (1968), dasar iman yang ia letakkan membuat Injil mampu terus bergerak dan menembus batas-batas geografis hingga mencapai wilayah Meck. Rumainum sejak awak menegaskan bahwa Injil  bukan hanya untuk pusat misi, melainkan juga harus menjangkau wilayah “bungsu”, wilayah yang sering dianggap kecil, jauh dan kurang penting. Semangat inilah yang membuahkan hasil hingga Injil bisa diwartakan sampai menyentuh seluruh sendi-sendi kehidupan masyarakat Meck.

Dalam sejarah pelayanan dan penginjilan, wilayah Meck dipandang daerah yang paling timur jauh dan berhak mendapatkan perhatiannya sebagai “anak bungsu gereja” dibanding wilayah-wilayah pelayanan lainnya. Untuk itulah Rumainum meneguhkan langkah, bahwa Injil bukan hanya untuk pusat-pusat besar, melainkan juga untuk wilayah-wilayah terpencil yang belum tersentuh dan baru mulai tumbuh. Ia percaya bahwa setiap jemaat, sekecil apapun, adalah bagian dari tubuh Kristus. Semangat itulah yang membuat orang Meck kelak melihat Rumainum sebagai bapak leluhur pekabar Injil. Melalui kepemimpinan dan teladannya, jemaat di wilayah Meck yakin bahwa Injil tidak berhenti pada batas geografis atau struktur organisasi, tetapi hidup dalam kasih, kesederhanaan dan kesetiaan kepada Tuhan.

 

Simbol Iman dan Keteladanan

Figur F.J.S. Rumainum tidak hanya meninggalkan jejak administratif sebagai Ketua Sinode pertama, tetapi juga jejak spiritual. Ia adalah simbol dari semangat kemandirian gereja, ketekunan dalam pelayanan dan kerelaan berkorban demi pekabaran Injil. Bagi wilayah Meck khususnya, Rumainum adalah “Bapak Leluhur Pekabar Injil” yang meletakkan dasar iman. Dari pelayanannya, gereja tidak hanya bertumbuh secara jumlah, tetapi juga memiliki identitas yang kuat sebagai gereja yang mandiri, misioner dan berakar pada tanah Papua.

Bagi jemaat di wilayah Meck, kehadiran Rumainum dikenang sebagai peneguh iman. Meskipun Rumainum belum pernah menginjakkan kakinya di wilayah Meck, kebijakan dan kepemimpinan dalam GKI di Tanah Papua untuk menjangkau dan menginjili orang Papua di serangkaian Pegunungan Timur merupakan anugerah terbesar karena karya keselamatan Allah terjadi di wilayah Meck. Ia menjadi simbol bahwa sekalipun Meck adalah wilayah terpencil dan termuda, Injil tetap menyapa dengan kuasa yang sama. Kemandirian gereja dan perluasan pelayanan yang ia perjuangkan sejak awal menjadi bekal utama bagi wilayah Meck dalam membangun pelayanan.

Keteladanan hidup keluarganya menjadi sebuah kesaksian dan juga menggambarkan bahwa betapa mereka hidup dalam kesederhanaan, tanpa mereka merasa kekurangan kasih Tuhan. Walau sering kali berada dalam kondisi pas-pasan, mereka diajar untuk selalu bersyukur. Mereka menyaksikan bagaimana ayah mereka dan para pekabar Injil lain dengan gigih berjalan kaki, sering tanpa alas, demi menabur benih Injil di Tanah Papua. Bagi masyarakat Meck, pengalaman-pengalaman inilah yang menumbuhkan rasa memiliki terhadap gereja, sekaligus mengikat mereka pada leluhur rohani yang telah berjuang sebelumnya.

Setiap kali bumi Cendrawasih disebut sebagai “Terra Evangelii”, nama Pdt. F.J.S. Rumainum ikut terpantul di dalamnya. Ia adalah tokoh yang berhasil menjembatani masa transisi gereja dari tangan para misionaris ke tangan anak negeri sendiri. Dari situlah perjalanan panjang GKI di Tanah Papua berlanjut, membawa kabar baik bukan hanya untuk orang Papua, tetapi siapa pun yang tinggal di tanah Papua.

Sejarah penginjilan, pelayanan, dan pengabdian di wilayah Meck adalah peristiwa besar yang tidak bisa dilupakan. Peristiwa ini bukan hanya catatan sejarah, tetapi bagian dari narasi besar bagaimana Injil bertumbuh di Tanah Papua. Mulai dari Manokwari sebagai Gospel City, warisan pelayanan Pdt. F.J.S. Rumainum, hingga tiba di daerah Meck sebagai wilayah paling bungsu, semua ini membentuk mozaik yang indah dari karya Allah di bumi Cendrawasih. Meck kini berada sebagai saksi bahwa Injil telah menjangkau “ujung-ujung bumi”, sebagaimana janji Kristus. Dalam setiap doa maupun ungkapan syukur setiap warga jemaat, nama F.J.S. Rumainum tetap dikenang sebagai bapak leluhur pekabar Injil yang meletakkan dasar hingga Injil mendarat di wilayah Meck pada momentum yang bersejarah.

Warisan iman dan teladan hidupnya tetap menjadi inspirasi, teristimewa bagi generasi muda di “Terra Evangelii” yang terpanggil untuk siap melayani. Sebagaimana nilai dan sikap yang ia tunjukkan dalam pelayanan dan ajarannya, Injil harus terus diberitakan dengan syukur, kasih dan kesediaan untuk berkorban. Warisan yang ia tinggalkan tidak hanya berupa struktur organisasi, tapi juga semangat iman bahwa Injil harus terus diberitakan, dari pusat hingga wilayah paling bungsu, dari generasi ke generasi. Meck berdiri hari ini karena bapak leluhur yang pecaya bahwa benih Injil, sekali ditabur, akan bertumbuh sampai ujung tanah Papua.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

"Kapsul Ajaib" dari Pegunungan Timur Papua

Kom: Legenda Cerita Rakyat Suku Yale