Perabuan: Budaya Pemakaman Tradisional di Papua Pegunungan

Pemakaman tidak hanya menjadi proses akhir kehidupan, tetapi juga merupakan refleksi mendalam dari cara pandang suatu masyarakat terhadap kematian, roh dan kehidupan setelah seseorang meninggalkan dunia ini. Hampir sebagian wilayah di Papua Pegunungan, yang kaya akan keragaman budaya dan kepercayaan, terdapat satu bentuk tradisi pemakaman yang unik dan sakral, yaitu Perabuan, atau pembakaran jenazah.

Tradisi ini tidak hanya dimaknai sebagai pelepasan raga secara fisik, tetapi juga sebagai penghormatan terhadap arwah leluhur serta bagian dari siklus kehidupan yang menyatu dengan alam dan roh-roh nenek moyang. Dalam tradisi masyarakat Papua Pegunungan, Perabuan merupakan ritus sakral yang menyiratkan nilai spiritualitas tertinggi, kesatuan komunitas, dan keterikatan mendalam dengan kosmologi adat.

Meskipun ada juga praktek pemakaman seperti penguburan biasa, atau yang diawetkan menjadi “Mumi” sebagaimana dilakukan oleh suku Dani, tetapi secara umum tradisi Perabuan lebih banyak dijumpai di wilayah Lapago. Tradisi ini dijalankan oleh berbagai suku seperti Lanny, Yali, Hubula, Mek, Ketengban, dan sejumlah suku lainnya. Sepintas, Perabuan tampak serupa dengan Kremasi, karena keduanya sama-sama melibatkan proses pembakaran jenazah. Namun, keduanya memiliki perbedaan mendasar, terutama dalam konteks budaya, tujuan, dan makna ritualnya.

Perabuan dalam tradisi pemakaman masyarakat di Papua Pegunungan, jenazah dibakar secara langsung di atas tumpukan kayu bakar di ruang terbuka atau di Tempat Pemakaman Umum (TPU) yang dikhususkan. Setelah proses pembakaran selesai, tidak ada pengumpulan abu atau sisa jenazah. Abu, arang, dan sisa tubuh dibiarkan menyatu dengan tanah dan alam, karena masyarakat meyakini bahwa roh telah sepenuhnya kembali kepada leluhur, alam asalnya, dan pemilik kehidupan yang sesungguhnya.

Sesudahnya, tempat di mana jenazah dibakar akan dirapikan, tanah ditimbun untuk menutupi bagian yang terbakar habis oleh api. Dahulu, dalam kepercayaan tradisional, masyarakat biasa menancapkan pohon atau benda tertentu di atas tempat tersebut sebagai penanda bahwa di situ pernah dimakamkan seseorang. Namun, setelah hadirnya Kekristenan, simbol itu digantikan dengan Salib yang ditancapkan di atasnya sebagai tanda iman dan penghormatan terakhir. Perabuan bukan sekedar proses fisik pembakaran, melainkan ritus spiritual yang memaknai penyatuan antara manusia, roh, dan alam.

Kebudayaan Lapago mengenal hubungan yang sangat erat antara manusia, alam, roh leluhur. Kematian dianggap bukan akhir, melainkan peralihan menuju dunia roh. Oleh karena itu, pemakaman dilakukan dengan penuh penghormatan dan simbolisme. Perabuan dipercaya sebagai cara terbaik untuk melepaskan roh dengan sempurna, menjauhkan gangguan dan mendekatkan arwah pada alam leluhur dan semesta.

Hampir di seluruh wilayah Papua Pegunungan, kita masih dapat menjumpai praktik pemakaman tradisional. Meskipun, seiring dengan kemajuan zaman, sebagian masyarakat mulai beralih ke bentuk pemakaman modern melalui penguburan biasa, terutama di kota-kota besar yang telah berkembang dari segi infrastruktur, pengetahuan, dan kebudayaan modern. Kendati demikian, di sejumlah suku tertentu atau di wilayah-wilayah terpencil, tradisi Perabuan tetap dijaga dengan teguh, meski dengan bentuk yang lebih simbolis, sebagai warisan budaya leluhur yang terus dipertahankan dan diwariskan dari generasi ke generasi.

Usai hadirnya agama Kristen yang mengkristal di wilayah Papua Pegunungan tidak serta-merta menghapus atau menggantikan tradisi Perabuan yang telah lama bercokol dalam eksistensi masyarakat. Justru di banyak tempat, keduanya menemukan ruang untuk bertemu dan berdialog dalam makna, antara iman yang datang dari Injil dan keyakinan luhur yang telah berakar dalam kehidupan sehari-hari.

Bagi masyarakat Papua Pegunungan, Perabuan bukan sekadar membakar jasad, melainkan mengembalikan kehidupan kepada ‘Sang Pencipta’ melalui api, unsur alam yang mereka yakini sebagai simbol kesucian dan kehadiran ilahi. Sementara ajaran Kristen, api juga memiliki makna spiritual yang mendalam yang melambangkan ‘Roh Kudus’, penyucian dan terang kehidupan baru. Dalam pertemuan simbolik ini tradisi dan iman saling menyapa.

Dewasa ini, praktik Perabuan sering dilakukan dalam suasana ibadah pemakaman Kristen. Doa, nyanyian, dan firman Tuhan dilantunkan di tengah prosesi, menyatu dengan adat dan kesakralan ritus Perabuan. Dalam proses itu, kata-kata dan nyala api adat tidak saling meniadakan, melainkan berpadu dalam pengakuan yang sama: bahwa hidup dan mati berada di tangan Tuhan, Sang Pemilik Kehidupan.

Mungkin saja, seiring dengan masuknya pengaruh luar, arus modernisasi, serta penyebaran agama-agama besar lainnya, tradisi ini mulai menghadapi tantangan nyata, penurunan praktik dan penggeseran keyakinan yang perlahan menggerus berbagai bentuk tradisi lama, termasuk ritual pemakaman. Meski badai perubahan terus datang menghantam keunikan dan kesakralan tradisi yang ada. Tetapi tradisi Perabuan masih berakar kuat di tengah suku-suku yang berpegang teguh pada ajaran, adat dan nilai-nilai untuk mempertahankannya.

Perabuan tetap berdiri sebagai simbol keteguhan budaya. Oleh karena itu, kita diajak untuk tidak hanya melihat Perabuan sebagai sekadar melihat praktik pemakaman, melainkan sebagai cermin identitas, keyakinan, serta nilai-nilai sosial yang hidup dan berdenyut dalam masyarakat Papua Pegunungan.

Perabuan bukan hanya cara untuk menguburkan jenazah, tetapi merupakan bentuk ekspresi budaya yang penuh makna bagi masyarakat Papua Pegunungan. Di dalamnya terkandung nilai spiritualitas, solidaritas komunitas, dan penghormatan terhadap leluhur yang tak ternilai. Tradisi ini mengajarkan kita tentang cara pandang yang berbeda terhadap kematian, bukan sebagai akhir, tetapi sebagai transisi sakral, menuju dunia roh.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

"Kapsul Ajaib" dari Pegunungan Timur Papua

Kom: Legenda Cerita Rakyat Suku Yale